ELCC Berikan Gambaran Beasiswa Luar Negeri

 

Sumber Foto: Dok.Humas Untag Sby
 

    Kamis, (11/4) Unit Kegiatan Mahasiswa English Language Community Center (ELCC)Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya mengadakan Seminar Beasiswa Luar Negeri. Bertempat di Gedung Graha Wiyata lt. 9, seminar bertemakan ‘How to See the World by Winning the Scholarship’ ini diikuti oleh mahasiswa UNTAG Surabaya dari lintas prodi dan angkatan. Seminar ini merupakan rangkaian acara Annual Carnaval of English (ACE) sebagai acara tahunan untuk memperingati ulang tahun UKM ELCC. Ketua Pelaksana Seminar - Ertha Wahyu Berliana mengatakan, “Seminar ini bertujuan untuk memotivasi, menginspirasi dan mendorong kita semua untuk melanjutkan kuliah dengan beasiswa. Semua mempunyai kesempatan untuk bisa meraih beasiswa keluar negeri.”

    Tampil sebagai pemateri Kepala Bagian Kerjasama dan Urusan Internasional (BKUI) UNTAG Surabaya - Wiwin Widiasih, ST., MT. Dia menuturkan bahwa BKUI menggiatkan internalisasi UNTAG Surabaya, “Dalam hal ini UKM ELCC berperan menghidupkan suasana internasional. Milestone kita mulai lokal, nasional, asia, hingga global. UNTAG Surabaya baru memfasilitasi beasiswa S1 dan memang belum menyediakan beasiswa magister. Karenanya dengan internasionalisasi kami berupaya melakukan joint scholarship bersama perguruan tinggi luar negeri.” Kepada para peserta, wanita yang pernah mendapatkan beasiswa DIKTI ini berpesan agar berefleksi, “Pastikan beasiswa ini keinginan diri sendiri. Imbangi dengan belajar bahasa, belajar sepanjang zaman. Harus  kepo positif dengan rajin mencari info beasiswa. Tentu perlu berani ambil resiko dan bersikap terbuka, terakhir, harus ada kombinasi usaha dan doa. Jangan lupa siapkan CV.”

    Terkait Curriculum Vitae, Marta MacDonald dari EQWIP HUBs Canada terjun langsung untuk membagikan tips terkait Pembuatan CV. “CV dibuat dengan maksimal 2 lembar. Karena CV ini tidak hanya untuk beasiswa tetapi juga untuk melamar pekerjaan. Ada beberapa unsur penting dalam CV, di antaranya dituangkan dalam bentuk poin yakni kontak, pendidikan, pengalaman bekerja, keahlian dan kesibukan. Adapun tujuan/pengalaman bisa dideskripsikkan dengan padat namun jelas,” terang Marta. Hal penting lainnya yang perlu dicantumkan seperti tingkat edukasi, pengalaman menjadi relawan, keterlibatan dalam sebuah acara, aktivitas ekstrakurikuler, dll. Dia menggarisbawahi bahwa privasi seperti agama dan foto tidak perlu dicantumkan karena tidak relevan dengan keahlian. “Bisa saja mempengaruhi objektivitas atau bisa mengarah ke diskriminasi,” tutup Marta.

    Pada kesempatan yang sama Agyl Ardi Rahmadi, ST., MA. membagikan pengalamannya mendapatkan beasiswa Fullbright Master of Science & Technology Initiative Degree Program dari pemerintah Amerika Serikat yang dikelola oleh American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF). “Tak hanya TOEFL, pendaftar juga membutuhkan surat referensi dari dosen wali dan dosen pembimbing TA serta Pernyataan Tujuan. Karena terlalu lama menulis Pernyataan Tujuan saya hampir saja melewatkan deadline bahkan 2 hari sebelum penutupan.” Agyl pun menerangkan tahapan selanjutnya dalam beasiswa, yakni wawancara, “Dalam wawancara kita menghadapi 5 orang yakni Kepala AMINEF, 2 orang dari Amerika dan 2 orang mantan penerima beasiswa dari Indonesia. Isinya berupa perkenalan diri dan pilihan studi. Saya pun ditanyai seberapa penting studi tersebut bagi saya dan Indonesia juga keterkaitan rencana saya dengan studi yang saya pilih.” Meski menurutnya wawancara yang dia lalui blepotan, tetapi justru hal tersebut membua dosen prodi Teknik Informatika UNTAG Surabaya ini bimbang. Karena sembari menunggu kepastian beasiswa dia diumumkan lolos CPNS. (um/aep)

    www.untag-sby.ac.id 

     

    Komentar